Skip to main content

MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM TENTANG KESENIAN

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ilmiah tentang Kesenian Peradaban Islam. Kemajuan dunia di bidang kesenian tidak lepas dari perkembangan islam pada zaman dahulu. Generasi muda Indonesia harus pula mengetahui dan mempelajari kesenian yang ada untuk dikembangkan di masa depan. Menghadapi zaman modern ini, diperlukan generasi yang tidak melupakan sejarah. Pendidikan agama islam sebagai pembelajaran di sekolah tentu harus mampu menampung dan menjawab keperluan pendidikan generasi muda saat ini. Oleh karena itu, kelak diperoleh sosok generasi muda yang mampu mengetahui asal-usul peradaban kesenian untuk menjawab tantangan bangsa dan negara Indonesia. Pengelolaan makalah yang berkualitas akan menghasilkan generasi yang mengetahui tentang Kesenian Peradaban Islam. Diharapkan dapat menjadi sarana untuk melihat keadaan perkembangan kesenian saat ini.

Ungaran, 16 November 2018













DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB 1. PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
PERUMUSAN MASALAH
TUJUAN
METODE
SISTEMATIKA PENULISAN
BAB 2. PEMBAHASAN
PENGERTIAN ILMU KESENIAN ISLAM
PERKEMBANGAN KESENIAN SEBELUM MASA KEJAYAAN  ISLAM
KEMAJUAN KESENIAN PADA MASA KEJAYAAN ISLAM
TOKOH-TOKOH YANG BERPENGARUH
HASIL KARYA/PENEMUAN KEMAJUAN ILMU KESENIAN PADA MASA KEJAYAAN ISLAM
MANFAAT HASIL KARYA/PENEMUAN UNTUK MASA SEKARANG
BAB 3. PENUTUP
KESIMPULAN
SARAN
BAB 4. DAFTAR PUSTAKA









BAB 1  PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Islam merupakan agama yang luas dan fleksibel. Islam mengkaji banyak hal. Kajian ilmu dalam islam tidak hanya pada inti ajaran islam itu sendiri, melainkan juga pada ilmu lain yang relevan terhadap ajaran islam. Semua aspek dan hal dalam kehidupan manusia diatur oleh islam. Cakupan kajian islam sangatlah luas karena tidak ada satupun hal yang tidak diatur dan dibahas dalam islam, mulai dari keindahan dalam hal ini seni dan budaya, ilmu pengetahuan, hingga cara berpikir dengan filsafat. Islam agama yang mencintai keindahan sehingga dalam islam terdapat aspek hubungan islam dengan seni dan budaya. Islam merupakan agama yang berkembang, fleksibel dan dapat menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Namun hal ini perlu dipikirkan secara lebih mendasar, logis dan menyeluruh sehingga perkembangan yang terjadi tidak bertentangan dengan inti ajaran islam. Islam adalah agama yang sangat menghargai seni. Hampir dalam setiap masa penyebaran islam diberbagai belahan dunia, seni selalu dianggap sebagai cara dakwah yang paling tepat. Karena masyarakat akan lebih mudah memahami nilai-nilai yang dibawa oleh agama islam melalui seni tanpa perlu ada kekerasan. Setelah agama islam diterima hampir diseluruh dunia, timbul lah banyak jenis kebudayaan islam. Jenis kebudayaan disetiap daerah berbeda-beda. Namun, saat ini seluruh kebudayaan islam tersebut telah mengalami perkembangan yang sangat signifikan dan semakin baik. Hal yang sangat mempengaruhi perkembangan kebudayaan islam adalah adanya konsep pengembangan budaya islam. Kebudayaan Islam adalah peradaban yang berdasarkan pada nilai-nilai ajaran islam. Nilai kebudayaan Islam dapat dilihat dari tokoh-tokoh yang lahir di bidang ilmu pengetahuan agama dan bidang sains dan teknologi. Semua itu di ilhami oleh ayat-ayat Al Quran dan sunnah.

B. PERUMUSAN MASALAH
Apakah  pengertian ilmu kesenian dalam Islam?
Bagaimanakah perkembangan ilmu kesenian sebelum dan saat mencapai masa kejayaan Islam?
Kemajuan ilmu kesenian pada masa kejayaan Islam:
Sebutkan tokoh-tokoh yang terkenal dan berpengaruh dalam perkembangan ilmu kesenian beserta biografinya!
Sebutkan hasil karya / penemuan ilmu kesenian dari tooh-tokoh yang sudah disebutkan di atas!
Jelaskan manfaat hasil karya / penemuan untuk masa sekarang!


C. TUJUAN
Mengetahui seluk-beluk kesenian dalam Islam.
Mengetahui arah perkembangan kesenian Islam.
Dapat mengenal tokoh-tokoh dan penemuannya pada masa kejayaan Islam di bidang kesenian.
Mengetahui pengaruh dan nilai kesenian yang telah dikembangkan agama Islam.
Mengetahui manfaat penemuan-penemuan di bidang kesenian untu masa sekarang.

D. METODE
    Metode yang digunakan untuk membuat makalah ini adalah metode literatur. Kami mencari sumber materi dari buku dan rujukan internet.

E. SISTEMATIKA PENULISAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB 1. PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
PERUMUSAN MASALAH
TUJUAN
METODE
SISTEMATIKA PENULISAN
BAB 2. PEMBAHASAN
PENGERTIAN ILMU KESENIAN ISLAM
PERKEMBANGAN KESENIAN SEBELUM MASA KEJAYAAN  ISLAM
KEMAJUAN KESENIAN PADA MASA KEJAYAAN ISLAM
TOKOH-TOKOH YANG BERPENGARUH
HASIL KARYA/PENEMUAN KEMAJUAN ILMU KESENIAN PADA MASA KEJAYAAN ISLAM
MANFAAT HASIL KARYA/PENEMUAN UNTUK MASA SEKARANG
BAB 3. PENUTUP
KESIMPULAN
SARAN
BAB 4. DAFTAR PUSTAKA
BAB II PEMBAHASAN

A . PENGERTIAN          
Seni islam merupakan sebagian daripada kebudayaan islam dan perbedaan antara seni islam dengan bukan islam ialah dari segi niat atau tujuan dan nilai akhlak yang terkandung dalam hasil seni islam. Pencapaian yang dibuat oleh seni islam itu juga merupakan sumbangan daripada tamadun islam di mana tujuan seni islam ini adalah kerana allah swt. Walaupun seni merupakan salah satu unsur yang disumbangkan tetapi Allah melarang penciptaan seni yang melampaui batas. Firman Allah swt yang bermaksud : "Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang melampaui batas."
Keindahan merupakan salah satu ciri keesaan, kebesaran dan kesempurnaan Allah swt lantas segala yang diciptakanNya juga merupakan pancaran keindahanNya. Manusia dijadikan sebagai makhluk yang paling indah dan paling sempurna. Bumi yang merupakan tempat manusia itu ditempatkan juga dihiasi dengan segala keindahan. Allah swt bukan sekadar menjadikan manusia sebagai makhluk yang terindah tetapi juga mempunyai naluri yang cintakan keindahan. Di sinilah letaknya keistimewaan manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk lain seperti malaikat, jin dan hewan. Konsep kesenian dan kebudayaan dalam Islam berbeda dengan peradaban Islam yang lain.

B. PERKEMBANGAN KESENIAN SEBELUM MASA KEJAYAAN  ISLAM
Pada masa awal Islam, yakni zaman Rasulullah SAW dan al Khulafa ar Rasyidun (Khalifah Abu Bakar as Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib; 632-661), corak kaligrafi masih kuno dan mengambil nama yang dinisbahkan kepada tempat tulisan dipakai, seperti Makki (tulisan Mekkah), Madani (tulisan Madinah), Hejazi (Hijaz), Anbari (Anbar), Hiri (Hirah), dan Kufi (Kufah). Kufi merupakan yang paling dominan dan satu-satunya kaligrafi yang dirajakan untuk menulis mushaf (kodifikasi) al-Qur’an sampai akhir kekuasaan al Khulafa ar Rasyidun.

Islam menghendaki orang Islam belajar menulis pada masa ini, sebagian sumber-sumber sejarah menyebutkan bahwa ada tujuh belas laki-laki dan tujuh wanita yang bisa menulis di Mekkah saat itu, dan sebagian sumber lain menyebutkan terdapat empat puluh dua orang penulis. Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada para tawanan perang Badar untuk mengajari kaum muslimin menulis. Sehingga muncullah para sahabat yang ahli dalam menulis atau melakukan pencatatan ayat-ayat al-Qur’an, seperti Ali bin Abi Thalib. Pada masa-masa awal Islam, yakni masa Rasulullah dan khulafa ar-Rasyidun berkembang jenis khat al Hairi, al Anbari, al Kufi. Selanjutnya jenis khat ini pun berkembang pada masa Umayyah.


2.Seni Arsitektur pada masa kenabian

Ada yang menyebutkan, sejarah arsitektur Islam pertama kali dimulai ketika Rasulullah SAW beserta para sahabatnya membangun Masjid Quba, Madinah, pada permulaan tahun hijriyah atau sekitar tahun 622 Masehi. Bentuknya adalah denah persegi empat dan dinding sederhana yang menjadi pembatasnya. Di bagian depannya, dibuat mihrab untuk Rasul berkhutbah. Sedangkan, pada bagian pintu dibuat gapura. Bahan-bahan yang digunakan bermacam-macam. Ada batu alam (batu gunung), pohon, dan pelepah kurma serta daun-daunnya. Meski arsitekturnya sangat sederhana, bangunan masjid pertama ini menjadi ymbolpe dari arsitektur masjid pada masa kemudian.
Ada pula yang menyatakan, cikal bakal arsitektur Islam itu adalah kiblat umat Islam di seluruh dunia, yaitu Ka’bah. Ini ymb dilihat pada bangunan Ka’bah di Makkah yang berbentuk kubus yang unik. Ka’bah merupakan bangunan terpenting dalam Islam karena merupakan rumah Allah (Baitullah) yang suci dan kiblat umat Islam.
Secara historis, Ka’bah bukanlah bangunan baru yang dibangun pada masa Islam, tetapi merupakan warisan Nabi Ibrahim AS. Rasulullah SAW bersama sahabatnya pernah mengonstruksi bangunan Ka’bah pada tahun 630 M atau dua tahun setelah ‘Fathu Makkah’ (Penaklukan Kota Makkah) dari kafir Quraisy. Walau masih sederhana, hal itu dianggap sebagai cikal bakal dimulainya arsitektur Islam.
Rekonstruksi bangunan Ka’bah dilaksanakan pada tahun 632 M oleh tukang kayu dari Abyssina dengan gayanya sendiri. Dinding Ka’bah dihiasi oleh beragam gambar, seperti gambar Nabi Isa, Maryam, Nabi Ibrahim, Rasulullah SAW, malaikat, dan beberapa pepohonan. Namun, ajaran yang muncul belakangan—terutama berasal dari hadis—akhirnya melarang penggunaan ymbol-simbol yang menggambarkan makhluk hidup, terutama manusia dan binatang.
Pada abad ke-7 M, umat Islam terus melakukan ekspansi dan memperluas wilayah kekuasaannya. Tiap kali umat Islam mendapatkan wilayah baru, yang pertama kali mereka pikirkan adalah tempat untuk beribadah, yaitu masjid. Bangunan masjid pada masa awal perkembangan Islam sangat sederhana. Bangunannya tidak lain berupa tiruan dari rumah Nabi Muhammad SAW atau terkadang beberapa bangunan yang diadaptasikan dari bangunan sebelumnya.

 Seni Arsitektur pada masa Khulafaur Rasyidin
Di masa Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin, seni arsitektur Islam hanya dipengaruhi oleh satu unsur, yakni kebudayaan Arab. Namun, seiring dengan makin luasnya wilayah kekuasaan Islam, unsur kebudayaan asing mulai memberikan pengaruh terhadap ragam dan corak arsitektur pada setiap bangunan di mana peradaban Islam tumbuh dan berkembang.



Pengaruh unsur asing ini tampak jelas dalam bangunan Masjid Kordoba yang memadukan arsitektur Islam dengan arsitektur Kristen Eropa. Begitu juga bangunan masjid di wilayah Asia Tengah yang dipengaruhi oleh budaya lokal. Misalnya, kubah besar, menara tinggi, serta bagian muka masjid yang merupakan penjelmaan kejayaan bangsa Mongol.


 KEMAJUAN KESENIAN PADA MASA KEJAYAAN ISLAM

Perkembangan Kaligrafi Periode Bani Umayyah (661-750 M)
Beberapa ragam kaligrafi awalnya dikembangkan berdasarkan nama kota tempat dikembangkannya tulisan. Dari berbagai karakter tulisan hanya ada tiga gaya utama yang berhubungan dengan tulisan yang dikenal di Makkah dan Madinah yaitu Mudawwar (bundar), Mutsallats (segitiga), dan Ti’im (kembar yang tersusun dari segitiga dan bundar). Dari tiga ini pun hanya dua yang diutamakan yaitu gaya kursif dan mudah ditulis yang disebut gaya Muqawwar berciri lembut, lentur dan gaya Mabsut berciri kaku dan terdiri goresan-goresan tebal (rectilinear). Dua gaya inipun menyebabkan timbulnya pembentukan sejumlah gaya lain lagi diantaranya Mail (miring), Masyq (membesar) dan Naskh (inskriptif). Gaya Masyq dan Naskh terus berkembang, sedangkan Mail lambat laun ditinggalkan karena kalah oleh perkembangan Kufi.
Perkembangan Kufi pun melahirkan beberapa variasi baik pada garis vertikal maupun horizontalnya, baik menyangkut huruf-huruf maupun hiasan ornamennya. Muncullah gaya Kufi Murabba’ (lurus-lurus), Muwarraq (berdekorasi daun), Mudhaffar (dianyam), Mutarabith Mu’aqqad (terlilit berkaitan) dan lainnya. Demikian pula gaya kursif mengalami perkembangan luar biasa bahkan mengalahkan gaya Kufi, baik dalam hal keragaman gaya baru maupun penggunannya, dalam hal ini penyalinan al-Qur’an, kitab-kitab agama, surat-menyurat dan lainnya.

Perkembangan Kaligrafi Periode Bani Abbasiyah (750-1258 M)
Adapun kaligrafer periode Bani Abbasiyah yang tercatat sebagai nama besar adalah Ibnu Muqlah. Ibnu Muqlah berjasa besar bagi pengembangan tulisan kursif karena penemuannya yang terdiri dari tiga unsur kesatuan baku dalam pembuatan huruf yang ia tawarkan yaitu : titik, huruf alif, dan lingkaran. Ia juga mempelopori pemakaian enam macam tulisan pokok (al-Aqlam as-Sittah) yaitu Tsuluts, Naskhi, Muhaqqaq, Raihani, Riqa’, dan Tauqi’ yang merupakan tulisan kursif

Usaha Ibnu Muqlah pun dilanjutkan oleh murid-muridnya yang terkenal diantaranya Muhammad ibn As-Simsimani dan Muhammad ibn Asad. Dari dua muridnya ini kemudian lahir kaligrafer bernama Ibnu Bawwab. Ibnu Bawwab mengembangkan lagi rumus yang sudah dirintis oleh Ibnu Muqlah yang dikenal dengan Al-Mansub Al-Faiq (huruf bersandar yang indah.
Pada masa berikutnya muncul Yaqut al-Musta’simi yang memperkenalkan metode baru dalam penulisan kaligrafi secara lebih lembut dan halus lagi terhadap enam gaya pokok yang masyhur itu. Yaqut adalah kaligrafer besar di masa akhir Daulah Abbasiyah.
Pemakaian kaligrafi pada masa Daulah Abbasiyah menunjukkan keberagaman yang sangat nyata, jauh bila dibandingkan dengan masa Umayyah. Para kaligrafer Daulah Abbasiyah sangat ambisius menggali penemuan-penemuan baru atau mendeformasi corak-corak yang tengah berkembang. Karya-karya kaligrafi lebih dominan dipakai sebagai ornamen dan arsitektur oleh Bani Abbasiyah daripada Bani Umayyah yang hanya mendominasi unsur ornamen floral dan geometrik yang mendapat pengaruh kebudayaan Hellenisme dan Sasania.

Seni arsitektur pada masa bani umayyah
Selama 89 tahun berkuasa, Dinasti Umayyah (661-750) mampu memperluas wilayah kekuasaan Islam. Kekhalifahan Umayyah yang berpusat di Damaskus, Suriah, mengatur wilayah kekuasaannya hingga ke Tashken di wilayah timur dan hingga wilayah pegunungan Pyrenee di sebelah barat. Kekhalifahan Umayyah sudah mampu mengatur pemerintahan dan perdagangan. Ditopang perekonomian yang kuat, Dinasti Umayyah telah mampu melakukan pembangunan. Di era inilah mulai dibangun Masjid Kubah Batu ( Dome of Rock) di Yerusalem dan Masjid Agung di Damaskus yang dikenal dengan nama Masjid Agung Umayyah. Periode kejayaan Umayyah ditandai dengan pencapaian dalam bidang arsitektur. Dikuasainya wilayah Irak, Iran, dan Suriah oleh umat Islam berkontribusi dalam perkembangan seni dan arsitektur.
Dinasti Umayyah telah memberi peran dan pengaruh yang besar dalam arsitektur Masjid. Pada 673 M, Muawiyahpemimpin pertama Dinasti Umayyah–mulai memperkenalkan menara. Menara masjid pertama dibangun pada Masjid Amr Ibn-Al-Ash. Di masjid itu, ia membangun empat menara sebagai tempat untuk mengumandangkan adzan.
Dalam proses pembangunan Masjid Agung Umayyah, dinasti ini juga mulai memperkenalkan sejumlah teknik arstitektur baru khas Islam. Salah satunya adalah lengkungan pada arsitektur masjid. Pada era kekuasaan Dinasti Umayyah yang ditandai dengan kemakmuran juga diperkenalkan elemen-elemen fungsional dan struktural utama dalam arsitektur masjid, seperti menara, mihrab, maksurah, dan kubah.
Seni dekorasi juga mulai berkembang menjadi seni Islami melalui penggunaan kalgrafi dengan tulisan indah kufi. Kaca mozaik juga mulai diperkenalkan pada masa itu. Setelah ditumbangkan Dinasti Abbasiyah pada 750 M, Dinasti Umayyah juga turut membangun sederet karya arsitektur monumental di Spanyol. Hingga kini, karya arsitektur peninggalan Dinasti Umayyah masih mengagumkan

Seni arsitektur pada masa bani abbasiyah
Pada masa kekhalifahan Harun Ar-Rasyid yang mencapai puncak kejayaan kehalifahaan dinasti Abbasiyah. Pada masa ini Harun Ar Rasid membangun kota bagdad dengan sedemikian indahnya, sehingga kota ini dijuluki sebgai kota penuh dengan keajaiban dan keindahan. Kemudian dilanjutkan oleh anaknya Khalifah Makmun Al Rasyid. Pembangunan awal kota bagdad mula-mula dirintis oleh Khalifah Abu Ja’far al Mansur dan dilanjutkan oleh keturunanya.[7]
Khalifahan Harun Al Rasyid serta anaknya Makmun Al Rasyid membangun kota bagdad dengan penuh keindahan dengan menerapkan konsep-konsep seni Arsitektur antara lain Arsitektur Byzantiyum dan Sassanide Persia. Sehingga akan kelihatan corak seni banguna yang lebih anggun dan indah yang dipadukandalam satu bentuk dan corak yakni seni bangunan Persia.[8]
Bangunan  yang pernah menghiasi kota Al Mansur dan Al Rasyid yaitu Masjid Damaskuus dan masjid Agung Yerussalem yang berasal dari kekhalahifahan Umayyah yang pada saat ini sudah tidak banyak ditemukan monument-monumennya. Yang masih terdapat bukti sejarah yang menggambarkan kemajuan seni arsitektur adalah menara Malawiyah yang berada di kompleks masjid angung Samrra.
Saat ini, tidak tersisa sedikitpun jejak dari monument-monumen arsitektual yang pernah menghiasi kota al-Manshur dan al-Rasyid, selain dua bangunan agung yaitu masjid di Damaskus dan Kubah Agung di Yerussalem yang berasal dari periode awal kekhalifahan Umayyah. Bahkan istana khalifah, yang disebut Gerbang Emas atau kubah hijau, dibangun oleh pendiri Baghdad, sebagaimana istana Rusafah, untuk para mahkotanya, al-Mahdi ; istana-istana penguasa Barmaki di Syammasiyah; istana Pleiades (al-tsurayyah), yang untuk membangunnganya al-Mu’tadid menghabiskan sekitar 400.000 dinar.
Diluar kota tidak ada reruntuhan yang bisa ditelusuri jejaknya (dengan tingkat probabilitas apapun) hingga masa kekhalifahan al-Mu’tasim. Pendiri ibu kota Samarra, dan anaknya al-Mutawakkil, yang membangun masjid agung Samarra. Masjid jami’ ini, berbentuk segi empat dengan bentuk jendela melengkung dan dilapisi timah memberi kesan adanya pengaeuh india. Di masjid Samarra, maupun di masjid Abu al-Dulaf yang terletak didekat Sammra, tidak ada jejak sedikitpun yang menunjukkan adanya mihrab disisi arah Kiblat.Tampak dinding mihrab merupakan penemuan bangsa Suria sebagaimana ditunjukkan oleh rancangannya yang hampir menyerupai altar gereja Kristen. Dibagian luar, berhadapan dengan dinding masjid agung samarra, terdapat satu menara yang serupa dengan bangunan Zigurat dari Babilonia kuno. Ibnu thulun meniru bentuk menara itu untuk membangun menara masjidnya.Setelah renovasi masjid Amr dan Nilometer, struktur lengkungan lancip, digunakan juga didalam masjid ibn Thulun.



Seni rupa  pada masa Dinasti Umayyah
Seni rupa pada zaman Umayyah banyak dipengaruhi oleh kesenianBizantium, sebagai akibat dipindahkannya pusat pemerintahan Islam dari Makkah ke Syria. Seni rupa ini banyak memperlihatkan ciri seni rupa kristen awal, yaitu bentuk-bentuk basilika dan menara. Seperti bisa dilihat di Masjid Umayyah yang awalnya adalah Gereja Johannes di Damaskus. Interior masjid ini digarap seniman-seniman Yunani dari Konstantinopel.
Pada masa ini ragam hiasmosaik dan stucco yang dipengaruhi oleh pengulangan geometris sebagai tanda berkembang pesatnya ilmu pengetahuan. Selain itu ciri khas lapangan di tengah masjid mulai diganti oleh ruangan besar yang ditutup kubah.
Pada masa ini pula dikenal kalifah yang sangat memperhatikan kelestarian masjid-masjid, yaitu Kalifah Abdul Malik dan Kalifah Al-walid. Kalifah Abdul Malik membangun Kubah Batu Karang (dikenal pula dengan nama Masjid Quber esh Sakhra dan Masjid Umar) sebagai pengingat tempat dinaikkannya Nabi Muhammad ke langit pada peristiwa Isra-Miraj. Selain itu dibangun pula Masjid Al Aqsa.

Seni rupa  pada masa Dinasti Abbasyiah
Perkembangan seni rupa periode ini dimulai sejak tahun 747 M sebagai akibat keruntuhan Dinasti Umayyah akibat revolusi oleh Keluarga Abbasiyah bersama kelompok Syiah. Seni rupa pada zaman ini maju akibat lancarnya perdagangan dengan bangsa Syria, Tiongkok, India, dan bahkan Nusantara. Selain itu dimulai banyak penerjemahan tulisan-tulisan kuno Yunani, sehingga seni ilustrasi berkembang.
Peninggalan penting dari masa ini adalah Masjid Mutawakkil, Masjid Abu Delif, dan bekas istana kalifah. Masjid pada zaman ini berciri mirip bangunan kuno mesopotamia, yaitu menara yang semakin mengecil di bagian ujungnya dan motif hias abjad Kufa, yaitu motif hias dari kaligrafi berbentuk tajam dan kaku. Selain itu ditemukan bentuk tiang melengkung.

Seni rupa pada masa Turki Ismani
Pengaruh Turki didapat dari penaklukan Iran oleh bangsaTurki pada abad ke-11 M. Di bawah kekuasaan iniRomawi Timur, Iran,Mesopotamia, dan Asia Kecil bersatu di bawah kerajaan bercorak Islam.
Pada masa ini seni rupa yang berkembang adalah dekorasi dan tekstil. Antara lain ditemukan teknik hias batu bata. Selain itu ditemukan kaligrafi dengan abjad nashi dan juga banyak pengaruh keramik-keramik Tiongkok dari dinasti Sung.


 1). TOKOH-TOKOH YANG BERPENGARUH
Ibnu Muqlah

Al-Wazir Abu Ali al-Shadr Muhammad bin al-Hasan ibnu Muqlah, yang digelari ‘Si Biji Anak Mata’. Sebenarnya Muqlah adalah nama bapaknya, dengan tradisi Arab memanggil seorang anak dengan ‘anak si fulan’, maka dipanggillah ia dengan Ibnu Muqlah. Namun, kasih sayang sang kakek kepadanya berlebihan, ia selalu dipanggil dengan sebutan “ ya muqlataabiihaa!” (wahai biji mata ayahnya).
Ia seorang jenius, menguasai ilmu dasar geometri membawa berkah dengan sematan “Imam Khatthathin” (Bapak para kaligrafer) baginya. Inilah akar utama penemuan kaligrafi cursif Ibnu Muqlah berkerja di bebearapa kantor pemerintahan dengan menyumbangkan keahliannya di berbagai bidang ilmu, termasuk kaligrafi. Dengan kekhasannya itulah karirnya menanjak tajam dengan menjadi salah satu wazir untuk tiga orang khalifah Abbasiyyah, antara lain khalifah Muqtadir, al-Qahir, al-Radi. Berkat keuletan dan hubungan sosial dengan sesama pejabat lain, ia menjadi orang yang terpandang. Ibnu Muqlah pada mulanya bekerja sebagai pemungut pajak pemerintah sekaligus mengatur anggaran pengeluarannya. Hingga keadaan membalik ketika ia menjabat sebagai pejabat bawaan al-Imami al-Muqtadi Billah pada 316H. Ia difitnah oleh musuhnya dan hartanya disita, sementara ia dibuang ke Persia. Namun pada akhirnya ia malah menjadi pembantu al-Radi, maka musuhnya kembali mencemarkan nama baiknya hingga ia ditangkap lagi dan dicopot dari jabatan kementrian.
Ia mencoba mendekati Ibnu Raiq, perdana menteri di Baghdad, seorang pejabat dibawah khalifah yang naif itu. Namun, khalifah tidak bisa menutup-nutupi rahasianya bahkan membusukkan namanya di hadapan Ibnu Raiq. Maka ditangkaplah Ibnu Muqlah dan dipotong tangannya.
Akhirnya al-Radi pun menyesal atas sikapnya sendiri dan menyuruh para dokter untuk mengobati luka tangannya yang buntung hingga pulih.Dalam keadaan seperti itu, Ibnu Muqlah menggoreskan pena dengan tangan kanannya. Tradisi menulis dan akademis terus dijalaninya sebagaimana biasa. Kesadisannya kumat lagi, dengan memerintahkan kepada anak buahnya untuk menangkap Ibnu Muqlah, memotong lidahnya, dan memenjarakannya hingga akhir hayat pada tahun 328 H/ 940 M. Ia dikuburkan di rumah sultan.
Mendengar kejadian itu, keluarganya menuntut pada kerajaan agar jenazahnya dikembalikan kepada keluarga, dan permintaan itu dipenuhi.Segala kepedihan Ibnu Muqlah telah digoreskan dalam tiap-tiap bait syairnya, dengan artinya sebagai berikut: Dengan pengorbanan yang besar, Ibnu Muqlah berhasil menggoreskan sejarah tertinggi yang besar nan suci yang tak pernah hilang dari peradaban manusia. Khususnya peradaban tulis-menulis kaligrafi di kalangan kaligrafer dunia. Kita pantas mendoakan beliau sebelum mulai belajar kaligrafi.





Abu Nawas

Nama asli Abu Nawas adalah Abu Ali Al-Hasan bin Hani Al-Hakami. Dia dilahirkan pada 145 H (747 M) di kota Ahvaz di negeri Persia (Iran sekarang), dengan darah dari ayah Arab dan ibu Persia mengalir di tubuhnya. Ayahnya, Hani Al-Hakam, merupakan anggota legiun militer Marwan II. Sementara ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol. Sejak kecil ia sudah yatim. Sang ibu kemudian membawanya ke Bashrah, Irak. Di kota inilah Abu Nawas belajar berbagai ilmu pengetahuan.
Masa mudanya penuh yang kontroversi yang membuat Abu Nawas tampil sebagai tokoh yang unik dalam khazanah sastra Arab Islam. Meski begitu, sajak-sajaknya juga sarat dengan nilai sprirtual, disamping cita rasa kemanusiaan dan keadilan. Abu Nawas belajar sastra Arab kepada Abu Zaid al-Anshari dan Abu Ubaidah. Ia juga belajar Alquran kepada Ya'qub Al-Hadrami. Sementara dalam Ilmu Hadis, ia belajar kepada Abu Walid bin Ziyad, Muktamir bin Sulaiman, Yahya bin Said Al-Qattan, dan Azhar bin Sa'ad As-Samman.
Pertemuannya dengan penyair dari Kufah, Walibah bin Habab Al-Asadi, telah memperhalus gaya bahasanya dan membawanya ke puncak kesusastraan Arab. Walibah sangat tertarik pada bakat Abu Nawas yang kemudian membawanya kembali ke Ahwaz, lalu ke Kufah. Di Kufah bakat Abu Nawas digembleng. Ahmar menyuruh Abu Nawas berdiam di pedalaman, hidup bersama orang-orang Arab Badui untuk memperdalam dan memperhalus bahasa Arab. Kemudian ia pindah ke Baghdad. Di pusat peradaban Dinasti Abbasyiah inilah ia berkumpul dengan para penyair. Berkat kehebatannya menulis puisi, Abu Nawas dapat berkenalan dengan para bangsawan. Namun karena kedekatannya dengan para bangsawan inilah puisi-puisinya pada masa itu berubah, yakni cenderung memuja dan menjilat penguasa. Abu Nawas pernah terjerumus kedalam penjara karena Abu Nawas membaca puisi Kafilah Bani Mudhar yang dianggap menyinggung Khalifah. Tentu saja Khalifah murka, lantas memenjarakannya. Sejak mendekam di penjara, syair-syair Abu Nawas berubah, menjadi religius. Jika sebelumnya ia sangat pongah dengan kehidupan duniawi yang penuh glamor dan hura-hura, kini ia lebih pasrah kepada kekuasaan Allah.


HASYIM MUHAMMAD AL BAGHDADI
AbūRāqım, Hashim bin Muhammad bin Haji Dirbāsal-Qaysī Al-Baghdadi. Beliau dilahirkan pada tahun 1335 H/1917 M di Baghdad. Sejak kecil Hasyim sangat tertarik pada kaligrafi, ia belajar kepada Maula ‘Arif al-Shaykhlī juga kepada Ali Sabir, akan tetapi hanya sebentar saja. Kemudian ia mulai berlatih kaligrafi di bawah pengawasan dan bimbingan Syeikh Maula ‘Alīal-Fadli, yang memberinya ijazah (Sertifikat kaligrafi) pada tahun 1363 H/1943 M.
Pada 1364 H/1944 M, Hasyim pergi ke Mesir, ia tinggal di sebuah institut Kaligrafi di Kairo. Para instruktur dan administrator sangat terkesan dengan karyanya. Yang kemudian menyertakan Hasyim untuk langsung mengikuti ujian akhir di kelas senior, ia memperoleh kehormatan duduk di kelas nomer satu. Hasyim mendapat ijazah kedua dari khattat ternama Sayyid Ibrahim-Mesir (1315/1897 – 1414/1994), dan Muhammad Husni pada tahun 1364/1944. Administrator Lembaga memintanya untuk tinggal di Mesir dan mengajar, tapi ia kembali ke Baghdad dan membuka toko kaligrafi di 1365/1946. Hasyim kemudian pergi ke İstanbul, di mana ia berkenalan dengan kaligrafi Turki, terutama Hamid Aytac, yang memberinya dua sertifikat penghargaan sebagai pengganti ijazah, satu di 1370/1950 dan satu lagi di 1372/1952. Selama empat tahun, sejak 1375/1955, ia belajar dengan MācidAyral yang datang dari Baghdad ke İstanbul dan banyak sekali manfaat yang ia dapatkan ketika bersama MacidAyral.
Hasyim menjabat sebagai kaligrafer di Departemen kementrian di Baghdad dari 1380/1960 sampai dia dipindahkan kepada Departemen Pendidikan, di mana ia diangkat menjadi kepala Departemen Dekorasi dan Kaligrafi. Dengan tujuan mempopulerkan seni kaligrafi, Hashim membuat koleksi potongan kaligrafi di riq’ah dan lain yang lainnya dalam berbagai skrip. Selain itu, Hasyim juga menjadi pengawas dalam penerbitan Mušhafal-Awqāf, yang diterbitkan pertama kali oleh Departemen kementrian. Ini adalah mushaf kaligrafi yang sangat indah di tahun 1236/1821 yang ditulis oleh kaligrafer Turki Muhammad Amin Ar-Rusdi (abad ke 13/19). Kaligrafi Hasyim banyak terpajang di masjid-masjid dan bangunan lainnya di Baghdad dan kota-kota lainnya, yang terbuat dari fayans atau marmer, terutama di khot Jali Thuluth. Dan di atara karya-karyanya Yang paling langka adalah dalam naskah Kufi, seperti dalam Masjid ‘Al-Qadir Abd al-Jilani dan Masjid Hajj Mahmud. Hashimal-Baghdadi meninggal pada 27 Rabī’I 1393/30 April 1973 di Baghdad dan dimakamkan di Pemakaman Khayzuran.


Yusuf Dzanun
Beliau terhitung sebagai salah seorang kaligrafer dan tokoh seniman besar yang dimiliki oleh dunia Islam saat ini. Beliau juga merupakan seorang peneliti dan penulis dalam bidang seni budaya dan ilmu pengetahuan dalam bidang kaligrafi khususnya dan dalam bidang seni umumnya. Dr. Abdullah bajuri, seorang pakar filologi Arab terkemuka mengatakan “Yusuf Dzannun adalah seorang pakar dalam filologi dan dunia kaligrafi yang dimiliki oleh dunia arab”. Bahkan beliau mengatakan bahwa Yusuf Dzannun adalah satu-satunya pakar di bidang tersebut dan sangat sedikit pakar yang setara dengannya. Lebih dari itu Yusuf Dzannun adalah tokoh yang masih tersisa dalam bidang kaligrafi, tulisan arab, dan peninggalan-peninggalan sejarah arab yang nyaris tiada tandingannya.
Yusuf Dzannun lahir di Mausil pada tahun 1932 menurut catatan sipil, tetapi sebenarnya beliau lahir setahun sebelumnya. Sejak kecil, beliau memiliki kecenderungan dalam bidang bidang pertukangan, seperti tenun, kerajinan kayu, dan arsitektur sebelum akhirnya terjun dalam dunia ilmu pengetahuan. kehidupan beliau di penuhi dengan kreasi baru dalam dunia kaligrafi yang mengantarkannya menjadi seorang kaligrafer besar, peneliti ulung, pakar dalam dunia arsitek dan seni islam dalam kurun waktu tiga puluh tahun. Setelah itu, semenjak tahun 1981 beliau memfokuskan semua waktu yang ada untuk Seni Islam secara umum dan Kaligrafi Arab secara khusus. beliau memulainya dengan belajar secara otodidak dari buku Muhammad Izzat, seorang kaligrafer Usmani terkenal yang wafat tahun 1886. Buku Muhammad izat adalah buku langka yang memuat contoh-contoh kaligrafi Turki Usmani yang diakui keindahan dan kekuatan kaidahnya.
Pada tahun 1957 Yusuf Dzannun pergi ke Turki pertama kalinya untuk mengunjungi tempat-tempat eksotis yang penuh dengan keindahan seni-seni Islam. Tahun ini merupakan tahun dimana pandangan beliau terhadap seni islam secara umum berubah. Terlebih dalam bidang kaligrafi. Karena kunjungan tersebut, akhirnya beliau menjadikan Turki sebagai kiblat seni yang tidak bosan untuk selalu beliau kunjungi. Yusuf Dzannun mendapatkan Ijazah khat dari Hamid al-Amidi pada tahun 1966, kemudian mendapatkan Taqdir (penghargaan) dari Kaligrafer yang sama pada tahun 1969. Penghargaan ini terbilang sangat langka dalam dunia kaligrafi dan dianggap lebih tinggi nilainya daripada ijazah oleh para kaligrafer, mengingat hanya dua orang kaligrafer yang mendapatkannya, yaitu Hashim Muhammad al-Baghdadi (meninggal 1973) dan Yusuf Dzannun.


2). HASIL KARYA/PENEMUAN KEMAJUAN KESENIAN PADA MASA KEJAYAAN ISLAM
Bahasa Arab" bahasa Arab: الحمراء = Al-Ħamrā'; berarti "merah") adalah nama sebuah kompleks istana sekaligus benteng yang megah dari kekhalifahan bani ummayyah di   Al-Andalus ketika benteng ini didirikan), yang mencakup wilayah perbukitan di batas kota Granada. Istana ini dibangun sebagai tempat tinggal khalifah beserta para pembesarnya.
Hagia Sophia atau Aya Sofya (dari  bahasa Yunani: Ἁγία Σοφία Bizantium Yunani [aˈʝia soˈfia]; kecuali pada tahun 1204 sampai 1261, ketika tempat ini diubah oleh Pasukan Salib Keempat menjadi Katedral Katolik Roma di bawah kekuasaan Kekaisaran Latin Konstantinopel. Bangunan ini menjadi masjid mulai 29 Mei 1453 sampai 1931 pada masa kekuasaan   Kesultanan Utsmani. Kemudian bangunan ini disekulerkan dan dibuka sebagai museum pada 1 Februari 1935. Bangunan ini tetap menjadi katedral terbesar di dunia selama hampir seribu tahun. Katedral Sevilladiselesaikan pada tahun 1520.
Bangunan yang sekarang ini awalnya dibangun sebagai sebuah gereja antara tahun 532-537 atas perintah Kaisar Rowami Timur  ."Justinian I" Yustinianus I dan merupakan Gereja Kebijaksanaan Suci ketiga yang dibangun di tanah yang sama, dua bangunan sebelumnya telah hancur karena kerusuhan. Bangunan ini didesain oleh ahli ukur Yunani,  Walaupun sesekali disebut sebagai Sancta Sophia (seolah dinamai dari Santa Sophia), sophia sebenarnya pelafalan fonetis . Latin dari kata Yunani untuk kebijaksanaan. Nama lengkapnya dalam bahasa Yunani adalah Ναὸς τῆς Ἁγίας τοῦ Θεοῦ Σοφίας, Naos tēs Hagias tou Theou Sophias, "Tempat Peziarahan Kebijaksaan Suci Tuhan". Mehmed II, yang kemudian memerintahkan pengubahan gereja utama Kristen Ortodoks menjadi masjid. Dikenal sebagai Aya Sofya dalam ejaan Turki, bangunan yang berada dalam keadaan rusak ini memberi kesan kuat pada penguasa Utsmani dan memutuskan untuk mengubahnya menjadi masjid. Minbar" minbar, dan empat menara, ditambahkan. Aya Sofya tetap bertahan sebagai masjid sampai tahun 1931 M. Kemudian bangunan ini ditutup bagi umum oleh pemerintah Republik Turki dan dibuka kembali sebagai museum empat tahun setelahnya pada 1935. Pada tahun 2014, Aya Sofya menjadi museum kedua di Turki yang paling banyak dikunjungi, menarik hampir 3,3 juta wisatawan per tahun. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Kementerian Budaya dan Pariwisata Turki, Aya Sofya merupakan tempat di Turki yang paling menarik perhatian wisatawan pada 2015.
Dari pengubahan awal bangunan ini menjadi masjid sampai pembangunan  . Masjid Sultan Ahmed (juga dikenal dengan Masjid Biru) pada 1616, Aya Sofya merupakan masjid utama di Istanbul. Arsitektur Bizantium pada Aya Sofya mengilhami banyak masjid Utsmani, seperti Masjid Biru, Masjid Şehzade (Masjid Pangeran),  Kekaisaran Mughal memiliki kekayaan yang besar selama masa kejayaannya. Pada 1631 istri ketiganya dan merupakan istri yang paling dicintainya wafat sewaktu melahirkan putrinya .

D. MANFAAT HASIL KARYA ATAU PENEMUAN UNTUK MASA SEKARANG
Mengurangi Stres
Kadang kita merasakan stres akibat aktivitas kita sehari-hari yang padat. Penting bagi kita untuk beristirahat sejenak dan meminimalisir jadwal yang padat yang menjadikan kita mudah mengalami stres serta dapat memberika dampak negatif pada kesehatan kita. Cara terbaik untuk memecah rutinitas pada kita adalah dengan berinteraksi terhadap beberapa jenis kesenian ke dalam hari-hari kita. Banyak studi yang menunjukkan bahwa istirahat sejenak selama sepuluh menit setelah beberapa jam kita bekerja dapat mengurangi tingkat stres yang berlebihan. Adanya kesenian yang menarik, dapat membawa kita ke dunia seni yang bermanfaat untuk mengurangi rasa jenuh dan stres. Melihat, membuat, mengamati, ataupun menciptakan kesenian dapat membuat pikiran kita menjadi lebih kreatif dan tenang. Karena kita akan teralihkan sejenak untuk beristirahat dari padatnya rutinitas.
Memperbaiki Fungsi Kognitif/ Mencegah Alzheimer
Daya kerja otak telah meningkat secara eksponensial untuk masa sekarang. Satu hal yang perlu diketahui adalah konsep neuroplastisitas yaitu kemampuan otak untuk membentuk kembali dirinya sendiri dan membentuk koneksi neuron baru saat kita menyerap informasi baru. Salah satu cara terbaik untuk meningkatkan neuroplastisitas adalah dengan berpikir kreatif dan menggunakan berbagai cara berfikir yang lebih baik untuk melakukannya, seperti berlatih instrumen, melukis gambar, atau belajar gerakan tarian baru. Neuroplastisitas telah terbukti secara aktif mencegah degenerasi sel otak yang menyebabkan alzheimer, demensia, dan penyakit kognitif lainnya. Oleh sebab itu, bentuk kesenian-kesenian tersebut perlu dimanfaatkan dan dilakukan untuk membentuk otak kita agar lebih aktif.
Meningkatkan Mood
Kita semua pasti akan merasa bangga terhadap sesuatu yang berhasil kita kerjakan atau ciptakan sendiri, misalnya membuat suatu kerajinan sederhana yang tergolong sebagai karya seni. Melalui kesenian, kita dapat mengolah karya seni yang kita miliki untuk menghasilkan nuansa kesenian yang unik. Banyak dari kita yang sering mengalami penurunan mood karna aktivitas pekerjaan yang cenderung monoton dan padat. Untuk mengembalikan dan meningkatkan mood, manfaat kesenian bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi kita. Terapi seni telah menunjukkan hasil yang luar biasa dalam meningkatkan mood dan perilaku.
Rehabilitasi Fisik
Banyak profesional mulai melihat manfaat kesenian di bidang medis. Padahal sebelumnya, kesenian dipandang sebagai obat alternatif, kini orang menyadari bukti ilmiah dan nyata di baliknya dan terbukti bahwa kesenian berhasil membantu merehabilitasi fisik seseorang. Secara keseluruhan, ketika kesenian ditambahkan ke dalam program rehabilitasi untuk para pecandu obat terlarang dan pemulihan fisik, para dokter menggunakan kesenian untuk melakukan program pemulihan terhadap gejala sakit mental, kegelisahan dan ketidaknyamanan.
Tingkatkan Pengobatan Kanker
Terapi kesenian dapat menunjukkan manfaat positif yaitu secara signifikan dapat mengurangi tekanan dan meningkatkan kinerja pengobatan pada pasien kanker. Kesenian juga berfungsi sebagai salah satu obat depresi dan kelelahan untuk para pasien kanker selama kemoterapi. Adanya terapi kesenian, terutama dalam kelompok penderita kanker, kesenian dapat memiliki dampak besar pada kualitas hidup pasien, serta dapat membuat pasien lebih nyaman dalam melakukan proses pengobatan.
      Kesenian memiliki dampak nyata dan terukur terhadap kehidupan masyarakat. Memasukkannya ke dalam perawatan dan terapi adalah cara yang bagus untuk mengurangi gejala sakit mental dan fisik untuk mendapatkan hasil yang positif. Kesenian juga bermanfaat untuk pemecah rutinitas sehari-hari yang terlalu monoton dalam kehidupan kita dan akan meningkatkan kebahagiaan kita dengan berkurangnya rasa stres yang timbul dari diri kita.



BAB III PENUTUP
A.KESIMPULAN
Menurut kami, berdasarkan makalah yang kami buat dapat diismpulkan bahwa agamaIslam mendukung kesenian selama tidak melenceng dari nilai-nilai agama. Agama Islammemandang bahwa setiap orang diberi akal dan pikiran yang dapat menciptakan sebuah seniuntuk menyalurkan kreativitas dan bakatnya, namun hasilnya harus sesuai dengan aturanagama Islam dan tidak melampaui batas yang telah ditetapkan menurut Islam.

B.SARAN
Menurut kami, bahwa setiap umat beragama selalu mempunya kebudayaan yangdianut oleh umatnya, begitu juga kebudayaan Islam. Sebagai seorang muslim hendaknya pandai menyaring dan memilah bahwa kita harus menerapkan kebudayaan yang sesuai dengansyariat Islam, misalnya yang mengandung unsur syirik harus dijauhkan. Islam selalu memiliki batasan-batasan tertentu dalam mengatur umatnya agar tidak melenceng dari ajaran Islam. Seniyang dikehendaki Islam adalah seni yang bisa mendatangkan manfaat, bukan mendatangkanmudarat seperti menimbulkan kemungkaran, syirik, menimbulkan syahwat, dan lainsebagainya.

BAB IV DAFTAR PUSTAKA
 HYPERLINK "http://www.academia.edu/35720143/Seni_and_Budaya_Menurut_Islam" http://www.academia.edu/35720143/Seni_and_Budaya_Menurut_Islam
 HYPERLINK "http://anshar-mtk.blogspot.com/2013/02/tokoh-tokoh-kaligrafi-islam.html?m=1" http://anshar-mtk.blogspot.com/2013/02/tokoh-tokoh-kaligrafi-islam.html?m=1
 HYPERLINK "https://www.slideshare.net/mobile/V0chelle/seni-islam" https://www.slideshare.net/mobile/V0chelle/seni-islam
 HYPERLINK "http://kumpulanmateriagama.blogspot.com/2016/01/tokoh-ilmuan-muslim-yang-sangat.html?m=1" http://kumpulanmateriagama.blogspot.com/2016/01/tokoh-ilmuan-muslim-yang-sangat.html?m=1
 HYPERLINK "http://khoironminan.blogspot.com/2017/08/sejarah-kesenian-islam-pada-masa.html?m=1" http://khoironminan.blogspot.com/2017/08/sejarah-kesenian-islam-pada-masa.html?m=1

Comments